Hasil Perkebunan Turun, Petani Mengeluh Kesejahteraan Berkurang

Walau dapat menyerap banyak tenaga kerja, kesejahteraan pekerja di bidang perkebunan masih tetap termasuk rendah. Hal semacam ini satu diantaranya dikarenakan oleh rendahnya harga hasil perkebunan di tingkat petani dan minimnya support pemerintah pada bidang ini.

Ketua Umum Grup Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menyampaikan petani di bidang perkebunan sekarang ini rata-rata cuma mempunyai tempat kurang dari 2 hektare (ha) per kepala keluarga. Dengan luas tempat sesuai sama itu, tiap-tiap keluarga petani cuma memperoleh Rp 1, 5 juta setiap saat panen.

” Jadi contoh, petani karet cuma memperoleh hasil kotor rata-rata 700 kg (kg). Bila dikalikan Rp 5. 500 (harga karet) itu bermakna Rp 3, 85 juta. Bila dihitung bersih, Rp 3, 85 juta dikurang 40 % (modal tanam serta perawatan), bermakna cuma Rp 1, 54 juta, ” katanya di Jakarta, Rabu (2/12/2015). Hidroponik

Hal yg tidak jauh berlainan juga dihadapi beberapa petani di bidang sawit. Walau sawit dinilai jadi komoditas ekspor serta strategis, kesejahteraan petaninya masih tetap rendah.

” Petani sawit hasilkan pendapatan kotor rata-rata 4. 200 kg lalu dikalikan Rp 900, bermakna Rp 3, 78 juta. Bila dihitung bersih, jadi di ambil 50 %. Pendapatan bersih mereka cuma Rp 1, 89 juta, ” kata dia.

Bukan sekedar itu, beberapa petani di bidang perkebunan juga minim pertolongan dari pemerintah. Satu diantara misalnya, bidang perkebunan tidak memperoleh subsidi pupuk. Walau sebenarnya, harga pupuk untuk tanaman kebun juga mahal.

” Ini ditambah dengan tingginya harga pupuk nonsubsidi, tidak ada pengetahuan serta permodalan petani kebun rakyat untuk lakukan pemrosesan pasca-panen. Sekarang ini petani banyak lakukan sebagian usaha penghematan cost produksi. Itu karna masih tetap sulitnya mencari bibit tanaman yang terjamin kualitasnya, ” katanya. ** Baca Juga Cara Menanam Cabai di : http://berkebun.web.id/

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*